Bocah Itu Diam Tanpa Kata

Siang tadi kegembiraan menghampiriku, sehingga aku pun mengalirkan kegembiraanku kepada sepupuku yang baru saja tiba dari tanah kelahirannya di kabupaten Bone. Sepupu aku ini usianya menginjak 5 tahun, perempuan, cantik, imut dan ngangenin bagi siapapun yang berjumpa dengannya.

430766_337825452907313_780045463_nSiang tadi berbekal kunci mobil pinjaman nyokap, aku mengajaknya untuk jalan-jalan, kali ini aku mengajak dia untuk ke Pangkajene, ibu kota kabupaten Pangkep. Sepanjang perjalanan yang aku tempuh kurang lebih 15 menit tak banyak kata yang aku dengarkan terucap dari mulut kecilnya. Berbeda ketika masih di rumah saat bencengkarama dengan nenek aku. Ini mungkin kerena tabiat sepupu aku ini yang tinggal di desa dengan bahasa keseharian adalah bahasa daerah dalam hal ini bahasa bugis atau bahasa ogi’ membuatnya kesulitan ketika dihadapkan pada kondisi yang berbeda dan tak biasa.

****

Sebelum berangkat, nenek aku yang juga masih kental bahasa bugisnya mengajaknya bencengkrama dan bercanda dengan bahasa bugis, akhirnya dengan mudah ia merespon dan terbawa suasana yang menyenangkan, begitu lincahnya mereka berdua saling berbicara dan berbisik dengan menggunakan bahasa bugis, sedikit tertawa dan kadang tiba-tiba serius.

Namun, ketika aku mencoba mengajaknya bercanda di atas mobil sepanjang perjalanan tak banyak respon darinya yang aku dapatkan, hanya beberapa kali aku mendengar suara dari mulutnya yang tak jelas aku dengar. Bagaimana tidak, aku mengajaknya bercanda tapi dengan menggunakan bahasa Indonesia, tentu ia akan kesulitan untuk membalas setiap kata yang aku ucapkan.

****

Masih dalam perjalanan, berkali-kali aku bertanya kepadanya juga tidak dijawab dengan jelas. Yang aku dengar, ia membalasnya dengan bahasa bugis. Tapi aku heran, dia paham bahasa Indonesia tapi kesulitan untuk membalasnya dengan bahasa yang sama. Mungkin inilah fenomena ketika seorang anak yang dalam masa tumbuh kembangnya hidup di lingkungan yang membiasakan bahasa bugis. Tapi pikirku, ini hal yang biasa, aku pun pernah demikian di masa kecilku.

Tapi yang aku herankan terlepas ia tak banyak bicara dan merespon setiap ucapanku, ada hal yang lain nampak jelas dalam dirinya, kini ia tak banyak tingkah, cenderung diam dan sesekali melihat ke bagian control panel ac mobil yang aku mainkan sebelum berangkat. Dalam hati aku bertanya, “ada apa gerangan dengan anak ini?”

Dalam keheningan di atas mobil, tiba-tiba dengan wajah yang mulai pucat ia berucap jelas untuk pertama kalinya dengan bahasa Indonesa, “Kak… Dingin…!!”. Dengan sedikit menahan tawa dalam hatiku berucap, “Ya Allah… Ternyata bocah ini kedinginan, pantasan diam tanpa kata”.

****

logo KC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s