Bolehka Aku Jadi Nasabah Setiamu

teller

Siang tadi tepat pukul 13.30 wita, aku memasuki sebuah Bank di daerah Tamalanrea Kota Makassar. Dengan hangat security di bank tersebut membuka pintu masuk dan dengan senyumnya menyapa aku,

****

“ada yang bisa saya bantu pak ?” kata security kepadaku,

“iya nih pak saya mau melakukan penyetoran” jawabku kepada security tersebut,

“oh kalo begitu pak, silahkan ambil nomor antrean dengan menekan tombol ini” jawab security sambil menunjuk tombol yang dimaksud,

****

Dalam hatiku berkata, dari pintu masuk aja security bank ini pelayanannya uda top, gimana dengan teller dan customer service-nya, beda banget dengan bank yang pagi tadi aku kunjungi.

Dengan tenang akhirnya aku duduk di antrean kursi belakang. Beberapa menit berlalu, nomor antrian yang aku punya tak kunjung disebut, jelas saja ternyata nomor antrean yang aku punya sudah di angka 201 sementara nomor antrean di monitor yang sedang transaksi masih di angka 186.

Kini, rasa jenuh mulai menggelayutiku, sesekali ku tujukan pandanganku ke monitor nomor antrean. Kepuasanku akan layanan di bank ini ketika di pintu masuk mulai pudar seiring dengan kejenuhanku menunggu giliran. Rasa kecewa yang mulai timbul dalam hati, kini rusakan.

Mataku kian menari-nari melihat para nasabah yang makin banyak, namun kali ini tak sengaja aku melihat deretan para teller bank tersebut yang sibuk melayani nasabah yang sedang transaksi. Sekilas biasa saja, namun ada yang beda di teller 4.

Teller 4 menyimpan sebuah mutiara yang begitu indah untuk terus dipandangi. Yah, mutiara itu adalah wanita yang bertugas di teller tersebut, begitu cantiknya ia, dengan senyumnya yang manis dan tatapannya penuh kasih sayang terhadap nasabahnya meluluhkan rasa jenuh yang aku rasakan. Belum sempat berlama-lama memandangi keindahannya, tiba-tiba terdengar panggilan dari sudut ruangan bank tersebut.

“Nomor antrean 201 dipersilahkan untuk ke teller 4”, sejenak mataku terbelalak langsung melihat ke monitor untuk meyakinkan diri bahwa memang kini sudah giliranku, “benar kini giliranku di teller 4” jawabku dalam hati.

Wah wah wah dan wah, itu ucapku dalam hati sambil tersenyum. Kali ini aku ketibang rejeki nomplok, untuk kedua kalinya aku mendapatkan pelayanan yang top dan bahkan kali ini super top. Aku harus dilayani oleh mutiara bank ini. Dengan santun ia melayaniku, hingga transaksiku usai, senyumnya tak berhenti merekah.

Sambil tersenyum walau dengan langkah kaki yang terasa berat, aku pun harus meninggalkan teller 4. Dalam hatiku berkata “mutiara, bolehka aku jadi nasabah setiamu !!”.

Oh, andai ia tau, ia adalah kesempurnaan layanan di bank ini.

****

Iklan

4 thoughts on “Bolehka Aku Jadi Nasabah Setiamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s