Sang Khatib Dan Bocah Nakal

Sang khotib baru saja mulai melangkahkan kakinya menuju ke atas mimbar dengan mengenakan sorbannya untuk memulai khutbah jum’atnya.

bocahNamun  tiba-tiba seorang bocah yang duduk tepat di sampingku beranjak dari tempat duduknya dan berdiri  bertepatan dengan naiknya sang khotib di atas mimbar ia dengan heran seheran herannya melihat penampilan sang khotib berteriak “wah… apa itu…” membuat barisan shaf bagian belakang heboh karena ulah bocah ini yang mungkin baru kali ini melihat seorang khotib yang berpakaian demikian.

****

Tak sampai disitu, bocah ini kembali dibuat terperangah oleh sang khotib ketika sang khotib duduk di atas mimbar dan semua orang memandang kepadanya. Bocah ini pun kian menjadi-jadi dengan setumpuk pertanyaan yang di utarakannya kepada sang paman sebagai ungkapan rasa penasaran melihat sang khotib.

Bocah ini memang tak sekedar lugu namun juga menyimpan setumpuk rasa curiga dan penasaran terhadap lingkungannya. Masih dalam keadaan berdiri, ia kembali lagi berulah dengan berteriak memanggil beberapa bocah seumurannya yang duduk rapi tepat didepannya dengan teriakan “woy…”.

Sungguh bocah yang luar biasa. Yah… luar biasa nakalnya.

Kini sang khotib memulai khutbahnya, hujan pun turun, suasana mesjid mulai hening , para jamaah dengan saksama menyimak khutbah sang khotib, bocah ini pun gatal dibuatnya layaknya cacing kepanasan. Kini bocah nakal ini kembali lagi berulah dengan “duduk berdiri duduk berdiri” hingga konsentrasi jamaah shalat jum’at di shaf belakang untuk mendengarkan khutbah buyar dibuatnya.

Sang paman yang membawa bocah ini kini pusing bukan main dibuatnya, rasa takut dan khawatir melihat tingkah bocah ini membuat sang paman panik.

Sekali lagi bocah ini berulah, ia meminta sang paman untuk mengantarnya dalam kondisi sang khotib membawa khutbah dan hujan deras diluar mesjid sedang turun.

Tak tanggung-tanggung ia terkesan mengancam sang paman untuk betertiak ketika permintaanya ini tak dituruti.

Sungguh sang paman dari bocah ini harus melupakan agendanya berada dalam mesjid ini. Dan kini harus menjadi paman ideal buat sang bocah nakal.

Hingga akhirnya, dengan senang hati walau terasa barat dan terpaksa sang paman mengantar bocah ini untuk pulang. Sungguh bocah nakal ucapku dalam hati.

****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s