Resiko Jadi Penulis, Pembaca Yang Bijak

penulisMasih teringat jelas dalam benak saya ketika beberapa bulan lalu saya hampir menelan pil pahit ketika sebuah tulisan saya yang sedikit keras dalam menyoroti kebijakan kampus tempat saya menempuh perkuliahan di respon serius oleh pihak kampus yang berakhir di rapat senat ungkap seorang dosen senior pada saya dimana saya hampir saja di depak keluar dari kampus.

Kini sekali lagi tulisan saya membuat hidup saya sedikit terusik. Berbagai sms teror dan kritikan pedas terhadap saya masuk lewat sms ke handphone saya. Bagaimana tidak baru-baru ini menjelang kenaikan harga BBM saya mencoba menguraikan sebuah pandangan yang lahir dari asumsi pribadi saya tanpa tendensi politik dari pihak manapun yang saya tuangkan melalui tulisan sederhana dan alhasil dimuat di salah satu portal berita online kenamaan di negeri ini yakni “detik.com”.

Dalam tulisan saya yang berjudul “Kuberikan Balsemku Kuambil Subsidiku” saya mencoba menyikapi rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM atau rencana pemerintah yang hendak mencabut sekian persen subsidi BBM dan dampak yang ditimbulkan ditengah masyarakat ketika rencana menaikkan harga BBM ini benar-benar di realisasikan.

Dalam tulisan tersebut saya menguraikan beberapa motif rencana pemerintah ini muncul dan masalah yang timbul ketika rencana pemerintah tersebut direalisasikan. Dan saya sebagai penulis paham betul bahwa sebuah tulisan yang berisi opini atau pendapat tentunya akan mengundang pro dan kontra dari orang membacanya.

Namun satu hal yang kemudian ingin saya kemukakan dalam catatan harian saya ini dan sering terlupakan oleh sebagian orang ketika menyikapi sebuah tulisan yang pro kontra adalah mereka selalu terkesan bahwa pendapat seorang penulis itu salah dalam tulisannya dan yang benar adalah pendapatnya sebagai seorang pembaca. Bukankah pendapat seseorang itu selalu benar, benar menurut mereka yang punya pendapat.

Dalam hal ini, saya ingin mencoba menyampaikan bahwa seorang penulis akan selalu di bayang bayangi pro dan kontra terhadap buah pemikirannya terlebih ia tuangkan dalam sebuah tulisan yang sistematis dan dibaca oleh khalayak ramai, namun satu hal yang semestinya juga tak bisa terlupakan dan dikesampingkan adalah seorang pembaca yang bijak hendaknya tidak menyalahkan pendapat, namun hanya sebatas berargumen atau berpendapat menurut versinya tanpa menyalahkan pendapat yang lain. Hal ini yang saya maksudkan dalam kontek antara penulis dan pembaca sebuah tulisan.

So, tetaplah menulis bagi yang gemar menulis dan tetaplah membaca bagi yang gemar membaca dan jadilah penulis dan pembaca yang bijak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s