Senin Tegang Berlalu, Marhaban Ya Ramadhan

marhaban ya ramdhanYah, tak ada kata yang pantas saya ucapkan melainkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan izinnya baru saja saya menyelesaikan ujian hasil dengan baik dan tentunya terima kasih pula yang saya sampaikan kepada ibuku tercinta atas do’anya demi kelancaran ujian ini dan kepada pembimbingku yang setia membimbingku dengan sepenuh hati.

****

Alhamdulillah, tak ada kendala berarti yang saya dapatkan dari ujian tersebut, hanya beberapa masukan yang kemudian disampaikan oleh para penguji guna sempurnanya penyusunan hasil penelitian saya yang menjadi bagian dari skripsi saya untuk mempreoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep).

****

Dan kini berkat terselesaikkannya ujian hasil saya pada hari ini, berarti kebersamaan dengan keluarga besarku melewati hari-hari di bulan ramadhan akan terwujud.

****

So, Pangkep i’m coming. Marhaban Ya Ramadhan.

****

Haruskah Aku Hijrah Ke Negerimu

i miss youTak terasa kini usiaku mendekati 23 tahun. Banyak hal yang telah aku rasakan. Kasih sayang yang tulus dari seorang ibu dan ayah, rasa cinta yang mendalam dari saudara dan para sahabatku, hingga aku melupakan bahwa kasih sayang dari seorang nenek sungguh tak aku dapatkan.

Bertahun-tahun sudah ia tak bersamaku, bukan karena ia telah tiada, tapi ia jauh di negeri seberang. Yah, nenek aku, ibu kandung dari ayahku menetap di negeri jiran Malaysia, jauh sebelum aku dilahirkan.

Mungkin kini ia telah melupakanku, atau mengingatku dikala ia rindu. Sungguh aku hanya mengenali sosoknya tatkala ketika pertama ia menemuiku ketika kematian ayahku di usianya yang masih muda.

Aku mengenalnya hanya dengan nama nenek. Kini, entah mengapa rasa rindu hadir dalam diriku untuk menemuinya, mungkin inilah perasaan tulus dari seorang cucu pertama yang begitu merindukannya. bertahun tahun sudah tak ada komunikasi, apalagi untuk sebuah pertemuan yang begitu berharga bagiku, entah baginya.

rindu

Mengenangmu terasa sulit bagiku, terlebih tak selembar foto pun yang engkau titip untukku untuk mengingatmu. Sungguh kini aku telah melupakan namamu apalagi sosokmu. Nenek, haruska aku melupakanmu, bagiku, itu sungguh tak mungkin dan teramat berat.

Kini, aku telah dewasa nek, aku pun ingin melihatmu kembali, aku telah melupakan wajah cantikmu ketika engkau menemuiku di usiaku yang masih duduk di bangku SMP, haruska aku hijrah ke negerimu untuk menemuimu.

“Dari sini kutitip rindu buatmu, duhai nenekku tersayang, Dari cucumu yang merindukanmu. Arsam”

****

logo KC